Orang-orang berduyun mendatangi suatu tempat, berkumpul lalu menikmati percikan-percikan bunga api diiringi suara hasil konversi nafas-nafas yang berusaha teratur. Beberapa orang ada yang berjalan kaki, ada yang menunggangi besi dengan 2, 3, atau pun 4 lingkaran berporos. Jalanan dipenuhi konvoi-konvoi yang didominasi kelompok-kelompok pemuda dengan penampilan semenarik mungkin. Berbagai macam ekspresi menghiasi wajah mereka, senang, haru, pucat, gelisah, dsb menunggu 00.00. Yang pasti mereka tetap setia menyembah berhala-berhala modern produk liberal walau berbasah-basah.
Tanpa terasa orang-orang terus menyembah ria berhala-berhala modernitas dan dimanifestasikan ke berbagai bentuk seperti acara makan bersama, bakar-bakar ria, hingga berjaga menyusuri jalanan tanpa tujuan. "Inilah detik-detik pergantian tahun, mari kita rayakan" kata mereka. Sayangnya, mereka hanya "turut" merayakan tanpa tau esensi sesungguhnya. Bahkan dengan lantang mereka mengecam bagi siapa yang melarang, padahal mereka sendiri miskin landasan. Budak-budak liberalism yang pragmatis dan konsumtif.
Budaya ikut-ikutan memang telah membudaya dikehidupan masyarakat kita, bahkan tanpa mengetahui hakikatnya. Ada yang memang tidak tahu menahu namun ada pula yang mengetahui tetapi dia merasa senang dengan sikap apatisnya. Sudah seharusnya kita men"filter" apa saja yang kita lihat atau dengar apakah sesuai dengan ketetapan 2 sumber hukum atau tidak, jika iya, nikmatilah, jika tidak, bakar atau jauhi. Hayati lalu nikmati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar